Oleh : Jalaluddin Ibrahim
kemarin kami berenam mendatangi beberapa desa di Kec. Terangun, Gayo Lues.
untuk melihat salah satu kegiatan, kami mesti menyeberangi sungai yang kemarin
itu arusnya sangat deras, maklum intensitas hujan tengah tinggi. melalui sebuah
jembatan gantung sederhana berupa bentangan papan memanjang.
ada macam cara yang dilakukan kami berenam untuk menyeberang, termasuk aku.
ada yang dengan santai melewatinya tanpa ragu terpeleset, mengingat lantai
papan yang basah oleh guyuran hujan. mungkin tak
sampai semenit, sudah sampai di seberang. bahkan ada yang sempat beraksi
akrobatik. tapi tak sedikit juga yang menyeberang dengan sangat hati-hati,
memegang tali kabel penahan papan. sambil berulangkali menatap ke bawah; lantai
papan yang basah dan derasnya arus sungai keruh itu.
kalaulah titi gantung sederhana tadi menjadi analogi atas kehidupan kami
berenam, tentu akan cukup menjadi penggambaran kehidupan manusia. ada yang
menjalani hidup ini dengan santai, ada yang sampai berakrobatik segala dengan
berbagai trik yang dilakukan, ada pula yang melaluinya dengan sabar dan penuh
kehati-hatian dalam menapaki tiap langkahnya.
tak selalu mulus, terdapat saat-saat yang begitu licin hingga dibutuhkan
langkah-langkah yang terstruktur, sambil berpengangan pada tali. agar tak
sampai tersungkur jatuh atau malah tercebur. macam resikonya. tapi kalau tak
juga dijalani titian tadi tentu tak harap kunjung sampai ke tujuan. meski
melangkah secara struktur, berpegangan tali, atau dengan trik dan tips
tersendiri bukan tak mungkin tetap akan tersungkur atau tercebur. di sinilah
peran faktor khusus; iman, tawakal, usaha, dan doa yang pastinya diujar atau
dipanjatkan pada yang serba maha.
No comments:
Post a Comment